Sakinah yang Berjalan: Belajar Cinta dari Ayah Molik dan Ibu Anita

Surabaya, 11 Juni 2026

Kemarin, tepat tanggal 10 Juni, adalah hari yang sangat spesial buat keluarga kami. Ayah dan Ibu saya merayakan hari pernikahan mereka yang ke-33. Tiga puluh tiga tahun. Sebuah angka yang kalau dibayangkan sekarang rasanya luar biasa panjang. Selama lebih dari tiga dekade itu, bahtera cinta mereka berdua mengiringi perkembangan keluarga kami, dari yang dulunya cuma keluarga kecil, sekarang pelan-pelan bermutasi jadi keluarga besar. Perjalanan panjang yang menyaksikan saya tumbuh dari bocah ingusan, melewati masa dewasa, sampai akhirnya sekarang saya sudah bisa membangun keluarga sendiri.

Melihat perjalanan cinta Ayah dan Ibu, banyak banget hal yang bisa saya dan saudara-saudara saya teladani. Satu hal yang paling saya syukuri, selama 33 tahun ini, tidak ada satu pun dari kami anak-anaknya yang pernah merasa kekurangan kasih sayang atau cinta. Ayah dan Ibu itu punya kemampuan magis untuk membagi perhatian mereka secara rata. Tidak ada yang dibeda-bedakan. Mereka selalu jadi sistem pendukung nomor satu untuk anak-anaknya, sejak kami masih kecil hingga detik ini ketika kami semua sudah punya jalan hidup masing-masing. Rasa sayang mereka itu hangatnya masih sangat terasa sampai sekarang.

Kalau bicara soal Ayah Molik… Ayah adalah orang yang mengajarkan kami bahwa menjadi seorang pemimpin keluarga itu bukan tentang siapa yang suaranya paling keras atau paling didengar. Menjadi pemimpin adalah tentang siapa yang paling setia menjaga. Dan Ayah membuktikan itu dengan menjaga kesatuan keluarga kami tetap utuh, bahkan sekarang anggotanya sudah berkembang jadi jauh lebih banyak. Dari Ayah, kami juga belajar banyak tentang arti perjuangan, kegigihan, dan kesabaran yang tanpa batas, baik dalam membangun bisnisnya maupun dalam setiap hal yang beliau kerjakan sehari-hari.

Lalu ada Ibu Anita… Sosok Ibu yang rasanya punya pasokan energi tanpa batas kalau sudah urusan memikirkan anak-anaknya. Sejak kami lahir ke dunia sampai sekarang—bahkan ketika kami semua sudah beranjak dewasa dan berumah tangga—Ibu tidak pernah lelah mengurus dan mencemaskan kami. Doanya untuk anak-anaknya seperti air mengalir, tidak pernah putus sedetik pun. Dari Ibu, saya belajar tentang kelembutan hati, tapi di saat yang sama juga belajar tentang ketegasan hidup yang selalu dibalut dengan kasih sayang yang tulus.

Bagi saya, Ayah dan Ibu adalah definisi nyata dari “sakinah, mawaddah, warahmah” yang berjalan.

Salah satu pelajaran terbesar yang saya ambil dari mereka adalah bagaimana mereka berdua selalu saling mendukung dalam keadaan apa pun. Prinsip saling dukung inilah yang sekarang sedang coba saya terapkan di keluarga kecil saya sendiri, yang baru saja mulai saya bangun dari fondasi paling dasar sejak Agustus 2025 kemarin.

Oh iya, disclaimer sedikit. Maafkan saya karena sampai sekarang belum sempat menulis tulisan khusus tentang pernikahan saya di tahun 2025 lalu. Tapi tenang saja, saya janji akan menulisnya di artikel terpisah nanti. Saya bakal ceritakan semua keribetan, keceriaan, hingga keharuan di hari bahagia itu.

Kembali lagi soal saling mendukung. Saat ini, saya dan istri sedang belajar untuk saling menyokong dalam hal kebaikan apa pun. Termasuk salah satu contoh kecilnya: istri saya adalah orang yang paling bersemangat mendukung saya untuk memulai hidup sehat lagi. Mulai dari menemani saya olahraga, sampai dengan sabar menyiapkan makanan-makanan sehat setiap hari.

Dukungan itu pula yang akhirnya mendorong kami berdua untuk nekat ikut event fun run yang diselenggarakan oleh komplek perumahan kami di Citra Garden Sidoarjo baru-baru ini. Ini adalah pengalaman pertama bagi istri saya ikut event lari, dan jujur, ini juga pengalaman pertama buat saya ikut lari tapi sepanjang rute gandengan terus sama istri. Asli, rasanya sudah kayak takut hilang aja di tengah jalan, hehe. Tapi biarpun kaki rasanya mau copot dan capeknya minta ampun, di akhir garis finish kami berdua senang banget. Semoga momen-momen saling mendukung seperti ini bisa terus kami rawat sampai tua nanti.

Terakhir, untuk menutup catatan kecil ini, saya ingin menyelipkan doa terbaik untuk kedua orang tua saya.

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim… Di hari anniversary pernikahan Ayah Molik dan Ibu Anita ini, kami memohon kepada-Mu.

Berikanlah keberkahan untuk setiap tahun yang sudah mereka lewati bersama.

Ya Allah, panjangkanlah umur Ayah Molik dan Ibu Anita dalam keadaan sehat, kuat, dan terus bisa istikamah beribadah kepada-Mu. Kuatkanlah tangan Ayah untuk terus menggenggam erat tangan Ibu, sekuat genggamannya dulu saat mengucapkan ijab kabul.

Satukanlah mereka bukan hanya di dunia ini, tapi kekalkanlah hubungan mereka hingga ke Jannah-Mu nanti. Pertemukan kembali mereka di telaga Kautsar, dengan wajah yang kembali muda, senyum yang jauh lebih indah, dan cinta yang tidak akan pernah lagi diuji oleh waktu, rasa sakit, ataupun perpisahan.

Barakallahu lakuma wa baraka ‘alaikuma wa jama’a bainakuma fii khoir. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Ayah, Ibu… Cinta kalian berdua sudah mengajarkan saya satu hal berharga: bahwa pernikahan itu bukan tentang menemukan orang yang sempurna. Tapi tentang dua orang yang sama-sama tidak sempurna, namun memilih untuk saling menyempurnakan satu sama lain setiap hari.

Selamat Anniversary ke-33, Ayah Molik & Ibu Anita. Kami semua sayang kalian.

Tags: