Surabaya, 4 Juni 2026
Kemarin di perjalan pulang dari kantor, di radio tiba-tiba terdengar lagu yang lumayan terkenal dan sepertinya lumayan timeless. Lagu dari Naif yang judulnya “Benci untuk Mencinta” seketika membuat saya berfikir apa ya hal di hidup saya yang saya rasanya harus membenci dulu untuk mencintai, sampai akhirnya terfikirkan yaitu “Data”, iya Data.
Dulu, kalau ada satu noda hitam yang rasanya pengen banget saya hapus dari transkrip nilai jaman S1 di Monash, itu pasti kode kelas ETX2250.
Data Visualisation and Analytics.

Salah satu mata kuliah dulu ketika saya merantau menimba ilmu di Monash University Australia. Di mata kuliah itu, saya dapat nilai 48. Huruf N. Gagal dan harus mengulang lagi mata kuliah ini.
Jujur, waktu itu rasanya kesel, marah dan sedih banget. Bukan cuma sekadar nggak suka sama silabusnya yang bikin eneg. Ada rasa sedih dan sesek yang luar biasa waktu sadar saya harus ngulang kelas itu. Biaya mata kuliah di Monash itu mahal. Ngulang satu kelas berarti nambah waktu stay di Melbourne, yang otomatis bikin biaya hidup ikut bengkak. Dihantui perasaan gagal dan ngerasa jadi beban buat orang tua itu rasanya berat banget. Duduk melototin layar R Studio buat mbedah dataset rasanya udah kayak dihukum tanpa ampun. Angka-angka itu nggak punya arti apa-apa buat saya waktu itu. Cuma tembok nyebelin yang ngalangin jalan buat wisuda.

Cukup lama saya ngeratapi kebodohan sendiri. Sampai di satu titik, saya sadar nangis darah pun nggak bakal ngubah huruf N di transkrip itu jadi Pass. Akhirnya otak ini saya paksa buat kompromi. Nelan ego sedalam-dalamnya. “Gimana caranya kelas sialan ini bisa kelewatan? Udah lah, nggak usah sok paham, yang penting pass aja.”
Waktu emang kadang punya selera humor yang agak kurang ajar.
Coba tebak rutinitas awal saya tiap pagi sekarang? Buka laptop, dan hal pertama yang dicari malah dashboard analitik. Melototin metrik pemasaran, ngecek event mapping di Meta, ngelacak Cost per Lead sampai angka konversi.
Sebagai bagian dari tim marketing di Aqiqah Nurul Hayat, Pesantren Khairunnas, dan LAZ Nurul Hayat, hari-hari saya sekarang justru dikepung angka. Anehnya, sekarang malah ngerasa ada yang ganjel kalau sehari aja nggak ngulik data. Apalagi kalau pas sadar di internal perusahaan sebenernya kita punya tumpukan data berharga yang dibiarin nganggur nggak tersentuh. Dalam hati sering ngedumel sendiri, Gileee, rugi bener.
Tiba-tiba otak ini otomatis jalan nyari pola. “Eh, kalau data interaksi audiens dari kampanye yang ini ditarik, terus dikawinkan sama data konversi bulan lalu, strategi kita bisa diubah ke arah mana ya?”

Mendadak saya jadi gila data. Candu.
Kenapa dulu benci setengah mati, tapi sekarang malah muja-muja angka? Jawabannya ada di konteks. Di bangku kuliah, data itu cuma deretan angka mati buat syarat kelulusan. Nggak ada nyawanya. Tapi di meja kerja sekarang? Data itu berdarah.
Dalam urusan data-driven marketing, angka itu kompas yang njagain kita dari halusinasi berjamaah. Pas nentuin sebuah strategi marketing, kita udah nggak bisa lagi sekadar nebak-nebak, “Kayaknya kampanye ini bakal pecah deh soalnya desainnya cantik dan copywriting-nya puitis.” Nggak bisa gitu. Data yang sekarang ambil alih ruang diskusi. Kalau ternyata strategi kita mandek dan nggak ngasih efek apa-apa, ya berarti ada data yang belum terulik dan termanfaatkan dengan tajam.
Data ngasih semacam rasa aman di tengah pasar yang berisiknya minta ampun. Kita jadi punya landasan rasional buat tiap decision making. Bukan cuma ngandelin insting atau tebakan buta. Walaupun ya, kadang sakit banget pas ngelihat metrik merosot tajam. That’s the harsh truth. Data nelanjangi realita apa adanya, suka nggak suka.
Logika ini yang belakangan sering bikin saya senyum sinis kalau lagi nonton berita politik.
Coba pikir deh. Kalau sebuah tim marketing aja butuh data yang solid, teliti, dan presisi cuma buat nentuin strategi jualan dan cara bertahan hidup bulan ini, terus gimana ceritanya dengan ngurus negara?
Tiap hari kita disuguhi sirkus komunikasi publik dari para pengambil keputusan yang asal bunyi. Kebijakan dilempar ke masyarakat tanpa landasan data yang jelas. Cuma modal feeling sama kepentingan ego sektoral. Yang lebih parah, kalaupun ada datanya, sering banget angkanya udah dipelintir dan dimanipulasi sedemikian rupa biar kelihatan kinclong di depan kamera. Realitanya disapu rapi ke bawah karpet birokrasi.
Di dunia digital marketing, kalau kamu berani manipulasi data konversi cuma buat nutupin strategi yang hancur lebur, bulan depan perusahaanmu pasti gulung tikar. Bisnis bakal mati kalau fondasinya cuma kebohongan.
Terus gimana caranya sebuah negara bisa maju kalau para pejabatnya alergi sama fakta dan kebenaran pahit dari sebuah data?
Mungkin mereka semua harus nyobain ngambil kelas ETX2250 dulu dan disuruh ngolah data mentah di R Studio. Biar tahu rasanya dipaksa nelan realita.

