Sebagai seseorang yang tertarik dengan psikologi manusia, saya merasa seru untuk mempelajari bagaimana kita mengambil keputusan. Di sinilah ekonomi perilaku atau behavioral economics jadi menarik. Bidang ini menggabungkan psikologi dan ekonomi untuk memahami bahwa keputusan-keputusan kita tidak selalu rasional. Salah satu buku yang sangat populer dalam bidang ini adalah Nudge: Improving Decisions about Health, Wealth, and Happiness karya Richard Thaler dan Cass R. Sunstein. Buku ini menjelaskan bagaimana konsep nudge atau “dorongan” bisa membantu kita membuat keputusan yang lebih baik, tanpa paksaan atau larangan.

Apa Itu Behavioral Economics dan Teori Nudge?

Pada intinya, behavioral economics adalah cabang ilmu ekonomi yang mempelajari bagaimana faktor-faktor psikologis, sosial, dan emosional memengaruhi keputusan ekonomi. Berbeda dengan pandangan ekonomi klasik yang menganggap manusia selalu bertindak rasional, behavioral economics mengakui bahwa banyak keputusan kita dipengaruhi oleh perasaan dan bias-bias yang tidak selalu logis. Kita semua pernah berada di situasi di mana kita tahu tindakan tertentu itu terbaik, tapi tetap memilih yang lain hanya karena faktor emosional atau kebiasaan.
Nah, di sinilah teori nudge masuk. Nudge, atau “dorongan,” adalah teknik untuk mempengaruhi perilaku tanpa memaksa atau menghukum, melainkan melalui pengaturan “arsitektur pilihan” atau cara pilihan itu diatur. Misalnya, jika kita ingin mendorong orang untuk membuang sampah pada tempatnya, kita bisa menempatkan tempat sampah di posisi yang lebih mudah dijangkau atau bahkan membuat tempat sampahnya menarik perhatian. Orang tetap bebas memilih, tapi kita mendorong mereka secara halus ke arah yang diinginkan.
Contoh-Contoh Penggunaan Nudge Theory
Mending kita langsung bahas ke contoh-contohnya aja yaa:
1. Mengubah Kebiasaan Makan Sayur

Jadi di salah satu sekolah di Amerika, Kantin sekolah menyediakan makan untuk murid-muridnya, nah ternyata permasalahan yang ditemukan adalah murid-murid tersebut jarang ada yang mengambil sayur-sayuran.
Alih-alih memerintahkan murid-muridnya untuk makan sayur! Tim kantin merubah posisi sayur di menu paling depan dan paling terlihat pertama kali.
Dan ternyata hasilnya jadi lebih banyak murid-murid yang mengambil sayur karena itu pilihan pertama dari sebelumnya.
2. Sayuran di Supermarket

Mirip dengan kasus makanan sayur di kantin sekolah, kali ini di Supermarket. Buah-buahan dan sayur-sayuran adalah produk yang masa bertahannya cepet dan harus cepet terjual juga.
Makannya, banyak di Supermarket-supermarket yang meletakkan sayur dan buah di paling depan setelah pintu masuk. Biar orang langsung bisa ambil dan beli buah dan sayur sebeluh ke produk yang lain.
3. Pipis pada tempatnya

contoh dari Nudge Theory selanjutnya tempatnya di dalam WC. Kalau kita ke kamar mandi laki-laki, yang ditemukan permasalahannya adalah massih banyak orang yang buang air kecil atau pipis nyiprat-nyiprat kemana-mana.
Nah solusinya adalah, di dalem Urinoir di taruh lalat, biar orang- orang yang pipisnya mengarahkan ke lalat itu. Dan hasilnya setelah itu diterapkan semakin jauh lebih rapih dan bersih.
4. Basket Cinta Alam

Di Sao Paolo, Brazil, untuk mengurangi kasus buang sampah sembarangan. Alih-alih membuat larangan dilarang membuang sampah yang banyak. Pemerintah bekerja sama dengan Nike, Memperbanyak tong sampah yang tersedia, dan juga membuat tong sampah yang mirip Ring Basket.
Supaya ketika warga membuang sampah, ada rasa sedikit gembira karena kesannya sudah berhasil mencetak Goal.
Dan Hasilnya dalam sebulan, kasus membuang sampah sembarangan berkurang sekitar 70%
5. Cuci Tangan Berhadiah

Salah satu NGO yang bergerak untuk mencegah anak-anak kurang mampu di Afrika terpapar penyakit seperti tipes dan kolera dengan seruan campaign mencuci tangan.
Alih-alih bikin seruan untuk mencuci tangah, mereka membuat yang namanya hope Soap ini. Jadi mereka menaruh mainan di sabun batangan transparan, Biar bisa dapet mainannya, mereka harus menghabiskan sabunnya dan rajin cuci tangan.
Dan hasilnya, waktu itu resiko terkena penyakit tipes dan kolera bisa berkurang hingga 70%
6. Warga Baik Membayar Pajak
Di Minnesota, Amerika Serikat ditemukan permasalahan ketika warganya sedikit banget yang membayar pajak. Alih-alih menyuruh warga untuk bayar pajak dan nakut-nakutin dengan berbagai denda dan hukumannya.
Pemerintah mengirim pesan ke masing-masing warganya yang isinya ” 90% lebih Warga Minnesota sudah memenuhi Wajib Pajak”
Dan hasilnya pesan itu banyak menggiring warga untuk membayar pajak, karena warga akan merasa dia adalah termasuk 10% orang terakhir yang belum membayar. Dan hasilnya pun sangat efektif.
7. Jangan Merampok!

Jadi, di London tahun 2017 banyak terjadi perampokan dan pembobolan di toko-toko di ponggiran jalanan London.
Alih-alih membuat larangan untuk warga-warganya, Pemerintah kota London memilih memasang wajah anak-anak kecil dan bayi di depan toko-toko tersebut.
Secara psikologis ini membantu untuk mencegah niatan-niatan jahat dari orang-orang. Dan ternyata hasilnya kasus perusakan toko ini turun 30%.
8. Decoy Effect untuk Diet

Buat yang lagi diet, ternyata cara Decoy Effect yang biasanya dipakai oleh marketing product, kali ini diterapkan untuk Diet. Kita sering dapet tips buat ganti piring kita ke piring yang lebih kecil. Karena ketika dibandingkan akan terlihat lebih banyak ketika pakai piring yang besar.
Dan ternyata secara psikologis, tips ini lebih efektif dan merupakan cara yang lebih positif daripada maksain diri dan melarang-larang diri kita.
9. Olahraga Naik Tangga
Selanjutnya, di salah satu station di Inggris yang mencoba mengajak warganya agar menggunakan tangga manual daripada eskalator dengan cara membuat tangga terlihat seperti arena lari.
Tujuannya adalah agar pengguna eskalator menjadi lebih sedikit di jam-jam ramai dan orang-orang beralih ke menggunakan tangga manual, dan juga agar warga Inggris bisa berolahraga setidaknya membakar beberapa kalori dengan menaiki tangga.


10. Putung Rokok Mu Menentukan Jagoan Bola mu

Selanjutnya adalah salah satu campaign yang dibuat oleh salah satu organisasi pecinta Alam (Hubbub) yang menemukan pemasalahannya adalah banyaknya sampah putung rokok yang dibuang sembarangan.
Dan karena saat itu sedang ramenya perdebatan mana pesepakbola yang lebih baik, antara Messi atau Ronaldo. jadinya terciptalah campaign ini. Dimana orang bisa nge-vote siapa jagoan bola yang lebih baik dengan sampah putung rokoknya. Dan hasilnya sangat efektif, pembuangan sampah putung rokok pun jauh berkurang
Mengapa Nudge Theory Efektif?
Daya tarik teori nudge adalah kesederhanaannya. Intervensi ini tidak hanya efektif, tetapi juga tidak mengurangi pilihan yang ada. Orang tetap punya kebebasan, tapi mereka terdorong ke arah yang lebih positif secara alami. Ini berbeda dengan larangan atau perintah langsung yang kadang justru memicu resistensi.
Menurut Thaler dan Sunstein, untuk menjadi sebuah nudge, intervensi harus mudah dan tidak memakan biaya untuk dihindari. Jadi, jika seseorang ingin mengabaikan dorongan itu, ia tidak merasa dirugikan secara ekonomi atau moral. Ini penting karena salah satu prinsip nudge adalah bahwa orang yang menjadi sasaran nudge tidak merasa dipaksa atau dirugikan apa pun.
Kesimpulan
Intinya, teori nudge adalah cara yang efektif dan halus untuk membantu kita mengambil keputusan yang lebih baik tanpa mengorbankan kebebasan kita. Menurut Prof. Thaler dan Sunstein, nudge adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan arsitektur pilihan yang mengubah perilaku seseorang dengan terukur, tanpa membatasi pilihan atau secara signifikan mengubah keuntungan ekonomisnya. Agar bisa dianggap sebagai nudge, sebuah intervensi haruslah mudah dan tidak memakan biaya untuk dihindari. Nudge bukanlah keharusan. Jadi, bagi orang yang dituju, ia tidak merasa dirugikan apa pun.
Mempelajari nudge membantu kita memahami bahwa keputusan-keputusan sehari-hari kita bisa diarahkan ke arah yang lebih baik, tanpa kita sadari. Dari sekadar gambar lalat di urinoir hingga tempat sampah rokok bergambar Ronaldo atau Messi, nudge telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Ini adalah cara menarik untuk menciptakan dampak positif yang bertahan lama.